Salah satu masalah yang saat ini menjadi isu nasional di negara kita adalah perihal sumber energi. Bagaimana tidak, meskipun menyandang title sebagai salah satu negara dengan kekayaan alam paling melimpah di dunia, nyatanya Indonesia masih saja dipusingkan dengan masalah penyediaan energi mulai bahan bakar kendaraan, industri hingga yang paling menyentuh masyarakat yakni bahan bakar untuk memasak.

Yang tidak kita sadari, sebenarnya banyak alternatif energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan memasak tersebut. Namun tantangannya adalah memang untuk mendapatkan teknologi energi alternatif tersebut dibutuhkan usaha yang tidak mudah. Dan salah satu putra bangsa yang telah menjalankan usaha tersebut dengan saat baik adalah Muhammad Nurhuda.

Dosen salah satu perguruan tinggi negeri tersebut berhasil mengembangkan teknologi kompor biomassa yang dapat memanfaatkan hasil alam bahkan hingga olahan sampah sebagai bahan bakarnya memasak yang efektif dan lebih ramah lingkungan. Yang lebih membanggakan, kompor biomassa karya Muhammad Nurhuda telah diproduksi secara masal di negara Norwegia serta dipasarkan di beberapa negara.

Menjawab Tantangan Krisis Energi Terbarukan

Seperti diketahui bahwa saat ini mayoritas sumber energi dimanfaatkan manusia berasal dari sumber yang tidak terbarukan seperti dari minyak bumi, batu bara serta gas alam. Sebagai sumber daya alam yang tidak terbarukan, tentu setiap jenis energi tersebut mempunyai batas waktu hingga akhirnya habis. Inilah yang concern seorang Muhammad Nurhuda. Pria yang masih aktif menjabat sebagai salah satu dosen Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) tersebut memfokuskan diri pada pengembangan alternatif energi terbaru dalam bentuk teknologi terapan.
Dan setelah masa pengembangan dan penelitian yang panjang, akhirnya ia berhasil menciptakan teknologi kompor biomassa yang mampu mewujudkan aplikasi energi terbarukan. Dengan desain yang fungsional, skema kompor ciptaan Nurhuda diklaim mampu memanfaatkan bahan bakar biomassa dari alam seperti bahan dari pohon  bahkan dalam sebuah kesempatan ia menyatakan bahwa olahan sampah pun bisa digunakan untuk sumber bahan bakar.

Dan setelah masa pengembangan dan penelitian yang panjang, akhirnya ia berhasil menciptakan teknologi kompor biomassa yang mampu mewujudkan aplikasi energi terbarukan. Dengan desain yang fungsional, skema kompor ciptaan Nurhuda diklaim mampu memanfaatkan bahan bakar biomassa dari alam seperti bahan dari pohon  bahkan dalam sebuah kesempatan ia menyatakan bahwa olahan sampah pun bisa digunakan untuk sumber bahan bakar.

Kelebihan Kompor Biomassa Ciptaan Muhammad Nurhuda

Dalam sebuah kesempatan, pria yang pernah mencicipi studi S3 di Jerman tersebut memaparkan beberapa kelebihan dari kompor biomassa yang ia buat. Dari sisi kualitas api yang dihasilkan, panas kompor biomassa dapat disandingkan dengan hasil pembakaran bakar bakar gas melon 3 kg. Dan hal tersebut nyatanya jauh lebih baik ketimbang kita menggunakan bakar bakar kayu secara langsung.

Berikutnya jika dibandingkan dengan jika menggunakan bahan bakar kayu atau arang, dampak lingkuran seperti asap dan polusi yang dihasilkan jauh lebih minim. Bahkan dari peneilitian disebutkan bahwa angka emisi gas buangnya berada jauh lebih aman dari batas yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Selain itu dari segi harganya pun tergolong cukup terjangkau. Untuk satu unit kompor biomassa dihargai dengan Rp195 ribu. Harga tersebut untuk tingkatan pengecer. Jika dikembangkan dalam skala besar, tentu harganya bisa lebih minim lagi. Untuk bahan bakarnya, yang utama adalah hasil cacahan dari kayu atau pohon. Namun bisa juga menggunakan bahan sisa sawit serta yang akan dikembangkan lebih lanjut adalah briket sampah.

Sudah Diproduksi Massal di Norwegia

Melihat besarnya potensi teknologi yang di ciptakan oleh Muhammad Nurhuda, sebuah perusahaan asal Norwegia, Primecookstove kepincut dan akhirnya menjalin kerja sama untuk memproduksi kompor biomassa tersebut secara missal. Hasilnya kini produk kompor biomassa karya Nurhuda sudah melanglang buana hingga beberapa negara yakni India, Meksiko, Peru, Timor Leste, Kamboja serta beberapa negara kawasan Afrika.

Agar lebih praktis dalam penggunaanya, pabrik Primecookstove juga menyediakan bahan bakar kompor biomassa yang bisa dibeli dengan mudah. Untuk masalah ketersediaan, tidak perlu kawatir karena pabrik tersebut telah mempunyai kapasitas produksi hingga 20 ton per hari.

Namun yang lucu, justru di Indonesia kompor biomassa tersebut tidak terlalu dilirik. Nurhuda mengaku hanya memproduksi beberapa kompor biomasa untuk pasar di Indonesia. Kurangnya solialisasi bisa saja menjadi salah satu alasan. Namun bisa dibayangkan jika kompor ini bisa digunakan oleh banyak rakyat Indonesia yang ada di daerah pedalaman dan jauh dari akses energi minyak atau gas, tentu akan sangat membantu karena bahan bakar masih tersedia sangat banyak.

Muhammad Nurhuda ~ Pembuat Kompor Biomasa yang Telah Terjual Hingga ke Mancanegara



Salah satu masalah yang saat ini menjadi isu nasional di negara kita adalah perihal sumber energi. Bagaimana tidak, meskipun menyandang title sebagai salah satu negara dengan kekayaan alam paling melimpah di dunia, nyatanya Indonesia masih saja dipusingkan dengan masalah penyediaan energi mulai bahan bakar kendaraan, industri hingga yang paling menyentuh masyarakat yakni bahan bakar untuk memasak.

Yang tidak kita sadari, sebenarnya banyak alternatif energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan memasak tersebut. Namun tantangannya adalah memang untuk mendapatkan teknologi energi alternatif tersebut dibutuhkan usaha yang tidak mudah. Dan salah satu putra bangsa yang telah menjalankan usaha tersebut dengan saat baik adalah Muhammad Nurhuda.

Dosen salah satu perguruan tinggi negeri tersebut berhasil mengembangkan teknologi kompor biomassa yang dapat memanfaatkan hasil alam bahkan hingga olahan sampah sebagai bahan bakarnya memasak yang efektif dan lebih ramah lingkungan. Yang lebih membanggakan, kompor biomassa karya Muhammad Nurhuda telah diproduksi secara masal di negara Norwegia serta dipasarkan di beberapa negara.

Menjawab Tantangan Krisis Energi Terbarukan

Seperti diketahui bahwa saat ini mayoritas sumber energi dimanfaatkan manusia berasal dari sumber yang tidak terbarukan seperti dari minyak bumi, batu bara serta gas alam. Sebagai sumber daya alam yang tidak terbarukan, tentu setiap jenis energi tersebut mempunyai batas waktu hingga akhirnya habis. Inilah yang concern seorang Muhammad Nurhuda. Pria yang masih aktif menjabat sebagai salah satu dosen Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) tersebut memfokuskan diri pada pengembangan alternatif energi terbaru dalam bentuk teknologi terapan.
Dan setelah masa pengembangan dan penelitian yang panjang, akhirnya ia berhasil menciptakan teknologi kompor biomassa yang mampu mewujudkan aplikasi energi terbarukan. Dengan desain yang fungsional, skema kompor ciptaan Nurhuda diklaim mampu memanfaatkan bahan bakar biomassa dari alam seperti bahan dari pohon  bahkan dalam sebuah kesempatan ia menyatakan bahwa olahan sampah pun bisa digunakan untuk sumber bahan bakar.

Dan setelah masa pengembangan dan penelitian yang panjang, akhirnya ia berhasil menciptakan teknologi kompor biomassa yang mampu mewujudkan aplikasi energi terbarukan. Dengan desain yang fungsional, skema kompor ciptaan Nurhuda diklaim mampu memanfaatkan bahan bakar biomassa dari alam seperti bahan dari pohon  bahkan dalam sebuah kesempatan ia menyatakan bahwa olahan sampah pun bisa digunakan untuk sumber bahan bakar.

Kelebihan Kompor Biomassa Ciptaan Muhammad Nurhuda

Dalam sebuah kesempatan, pria yang pernah mencicipi studi S3 di Jerman tersebut memaparkan beberapa kelebihan dari kompor biomassa yang ia buat. Dari sisi kualitas api yang dihasilkan, panas kompor biomassa dapat disandingkan dengan hasil pembakaran bakar bakar gas melon 3 kg. Dan hal tersebut nyatanya jauh lebih baik ketimbang kita menggunakan bakar bakar kayu secara langsung.

Berikutnya jika dibandingkan dengan jika menggunakan bahan bakar kayu atau arang, dampak lingkuran seperti asap dan polusi yang dihasilkan jauh lebih minim. Bahkan dari peneilitian disebutkan bahwa angka emisi gas buangnya berada jauh lebih aman dari batas yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Selain itu dari segi harganya pun tergolong cukup terjangkau. Untuk satu unit kompor biomassa dihargai dengan Rp195 ribu. Harga tersebut untuk tingkatan pengecer. Jika dikembangkan dalam skala besar, tentu harganya bisa lebih minim lagi. Untuk bahan bakarnya, yang utama adalah hasil cacahan dari kayu atau pohon. Namun bisa juga menggunakan bahan sisa sawit serta yang akan dikembangkan lebih lanjut adalah briket sampah.

Sudah Diproduksi Massal di Norwegia

Melihat besarnya potensi teknologi yang di ciptakan oleh Muhammad Nurhuda, sebuah perusahaan asal Norwegia, Primecookstove kepincut dan akhirnya menjalin kerja sama untuk memproduksi kompor biomassa tersebut secara missal. Hasilnya kini produk kompor biomassa karya Nurhuda sudah melanglang buana hingga beberapa negara yakni India, Meksiko, Peru, Timor Leste, Kamboja serta beberapa negara kawasan Afrika.

Agar lebih praktis dalam penggunaanya, pabrik Primecookstove juga menyediakan bahan bakar kompor biomassa yang bisa dibeli dengan mudah. Untuk masalah ketersediaan, tidak perlu kawatir karena pabrik tersebut telah mempunyai kapasitas produksi hingga 20 ton per hari.

Namun yang lucu, justru di Indonesia kompor biomassa tersebut tidak terlalu dilirik. Nurhuda mengaku hanya memproduksi beberapa kompor biomasa untuk pasar di Indonesia. Kurangnya solialisasi bisa saja menjadi salah satu alasan. Namun bisa dibayangkan jika kompor ini bisa digunakan oleh banyak rakyat Indonesia yang ada di daerah pedalaman dan jauh dari akses energi minyak atau gas, tentu akan sangat membantu karena bahan bakar masih tersedia sangat banyak.
Advertisement
Load Comments

Subscribe Our Newsletter